Januari 2017
Newsletter Elektronik Bulanan – Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Artikel Utama   Editorial

1.
Ketika Bottom-Up dan Top-Down Bertemu
2.
Pengembangan Bank Sampah dan Minimarket Sanitasi di Kabupaten Sumedang
3.
Pengelolaan Sampah Melalui Pemberdayaan Keluarga
4.
Menerapkan STBM di kawasan Kumuh Perkotaan di Kelurahan Pekojan, Tambora, DKI Jakarta
 

Kegiatan kita sehari-hari di rumah tangga pasti menimbulkan pekerjaan rumah baru, yakni berupa buangan sisa kegiatan rumah tangga. Istilah sisa kegiatan ini sering kita sebut dengan limbah. Skala rumah tangga dikenal dengan kata limbah domestik. Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Baik berupa sampah padat, kotoran kita sendiri dikenal dengan tinja masuk dalam kategori black water, dan air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya yang dikenal grey water. Edisi newsletter kali ini STBM mencoba mengangkat isu limbah domestik beserta upaya masyarakat dalam mengentaskannya. Semoga sharing informasi ini bisa menjadi bahan bacaan yang menarik dan renungan bulan ini. Selamat Membaca !

Rekomendasi Pustaka Kontak Kami

Studi yang dilakukan oleh Bank Dunia di beberapa negara di Asia dan Pasifik menemukan bahwa sistem pengelolaan limbah cair, desain, dan pengelolaan septik tank yang kurang baik telah menyebabkan berbagai penyakit berbasis lingkungan. Di Indonesia, kerugian total akibat SPAL-DS yang kurang baik mencapai 38 Triliun Rupiah (USD 2.9 milyar) per tahun. Artikel ini menyajikan ringkasan dari studi yang dilakukan Bank Dunia di 6 kota di Indonesia yaitu Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Denpasar, dan Banjarmasin dan di 6 kota di Vietnam. Secara ringkas, studi ini menemukan adanya kesenjangan yang mencolong terkait kebijakan, aturan dan standar; masih kurang efektifnya pengelolaan kelembagaan dan koordinasi pengelolaan SPAL-DS; masih kurangnya sumber daya dan sumber dana yang dialokasikan untuk mendukung sistem setempat; dan masih banyaknya kendala teknis dan kekurangan informasi yang menyulitkan rumah tangga untuk meningkatkan kualitas SPALnya. Selain memberikan data dan fakta, artikel ini juga diperkaya dengan temuan-temuan berbasis bukti yang ada di lapangan.

Dokumen ini dapat diunduh pada alamat berikut:

Meningkatkan Kualitas Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPAL-DS) di Asia Tenggara, Pembelajaran dari Indonesia dan Vietnam

 

Sekretariat STBM Nasional: Direktorat Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat
Gedung Kementerian Kesehatan Blok C Lantai 7 Ruang 716 - Jl. H.R. Rasuna Said Blok X.5 Kav. 4-9, Kuningan, Jakarta 12950 Telp. (021) 520-1590, Fax: (021) 520-1591
email: sekretariat@stbm-indonesia.org
website: http://www.stbm-indonesia.org

Ketika Bottom-Up dan Top-Down Bertemu

STBM merupakan salah satu strategi pelibatan masyarakat dalam program sanitasi yang telah dimulai sejak 2008. Kerja-kerja awalnya lebih banyak di wilayah perdesaan. Pada saat yang sama, Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) terus berjalan dengan menyasar kabupaten/kota agar masing-masing memiliki perencanaan pembangunan sanitasi yang komprehensif berdampak. Prinsipnya adalah dari, oleh dan untuk kabupaten/kota. Perencanaan bersifat lintas sektor dalam skala kabupaten/kota. Perencanaan yang baik berkontribusi positif bagi implementasi yang tepat guna. Program PPSP bukan sekadar membuat dokumen perencanaan, tetapi juga melakukan implementasi dengan target pencapaian Universal Akses Sanitasi di akhir 2019.

Persoalan sanitasi bukan lagi isu yang kerap dianaktirikan. Para Kepala Daerah sekarang dengan bangga memamerkan kabupaten/kotanya yang bersih karena penanganan sampah yang berjalan baik ataupun bersama masyarakat merayakan deklarasi desa atau kelurahan atau bahkan kabupaten/kota bebas buang air besar sembarangan (ODF). Di kalangan masyarakat, berbagai inisiatif bermunculan dan terus menyebar. Memang masih banyak masyarakat yang buang air besar sembarangan, memang penanganan sampah masih menyisakan banyak kendala, tetapi satu per satu tantangan itu dilalui. Pendekatan dari pemerintah (top-down) maupun inisiatif dari masyarakat (bottom-up) perlu dipertemukan, karena dengan cara itu Universal Akses Sanitasi bisa dicapai dan dirayakan sebagai capaian bersama. >> Artikel selengkapnya

Pengembangan Bank Sampah dan Minimarket Sanitasi di Kabupaten Sumedang

Dalam perjalanannya, pengembangan STBM di Kabupaten Sumedang mengalami pasang surut semangat. Beberapa kendala diantaranya adalah rotasi mutasi beberapa tim inti POKJA AMPL dan bertambahnya tugas pokok dan fungsi masing-masing anggota POKJA AMPL. Sehingga, selain KOMITMEN, KONSISTENSI sangat penting untuk memastikan keberlanjutan.

Semangat beberapa relawan terkait Bank sampah kabupaten ditambah dengan dengan program Sumedang Compassionate City (Kota Welas Asih) yang terintegrasi dengan Puskesmas telah memberikan semangat baru kepada pengelola POKJA AMPL khususnya sekretariat untuk berbuat lebih giat lagi demi tercapainya Visi Sumedang SENYUM MANIS. Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), setiap Puskesmas dipicu untuk memiliki unit bisnis tersendiri. Salah satu unit bisnis yang dikembangkan di Sumedang adalah bank sampah dan minimarket sanitasi yang digabungkan ke dalam sebuah wadah bernama Unit Pengelola Sanitasi (UPS).

UPS merupakan binaan sekretariat POKJA AMPL Kabupaten Sumedang yang berada di bawah tanggung jawab Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang selaku Ketua Pelaksana Harian POKJA AMPL Kabupaten Sumedang. Selama kurun waktu 2006-2016, pengelolaan bank sampah dan minimarket sanitasi atau UPS masih berkisar pada sosialisasi, pelatihan–pelatihan dan pembinaan kelompok bank sampah, pameran dalam rangka pengenalan produk (bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan lainnya), dan melayani berbagai permintaan sarana sanitasi lain melalui minimarket sanitasi antara lain: JARODANG, sarana CTPS, sarana teknologi air mentah langsung minum, sarana pengolah sampah (komposter takakura, komposter cair, biodigester, juga konverstik alat pengolah plastik menjadi minyak solar dan bensin), dan kebutuhan biopori.

Minimarket sanitasi ini termasuk salah satu kegiatan inovatif yang telah sukses mengantarkan Kabupaten Sumedang meraih banyak hal. Pada tahun 2013, Kabupaten Sumedang berhasil mendapat predikat Kabupaten Sehat swasti saba PADAPA... >> Artikel selengkapnya

Pengelolaan Sampah Melalui Pemberdayaan Keluarga

Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai yang membelah Kota Bandung melewati sembilan kecamatan yang mencakup 13 kelurahan. Sungai ini sangat penting bagi Kota Bandung karena berfungsi sebagai sumber air baku. Kondisi pemukiman di sekitar aliran sungai ini di Kelurahan Tamansari sangat padat. Banyak penduduk yang membuang sampah dan limbah rumah tangganya ke sungai. Akibatnya sungai ini menjadi sangat tercemar.

Pencemaran terlihat secara kasat mata. Air sungai berwarna coklat dan banyak tumpukan sampah di dalam sungai. Sungai ini menampung limbah domestik sebanyak 2,5 juta liter. Produksi sampah untuk Kelurahan Tamansari sebanyak 53,080 liter/hari atau 1,98 liter/orang/hari (BAPPEDA Kota Bandung, 2011). Saluran pembuangan air limbah rumah tangga masyarakat Tamansari yang bertempat tinggal di sekitar aliran Sungai Cikapundung juga mengarah langsung ke badan sungai karena tata letak bangunan masih banyak membelakangi sungai tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan Bethy (2010), kadar amonium Sungai Cikapundung 1,8 mg/l melebihi baku mutu 1,5 mg/l. Adanya amonium dalam air sungai merupakan indikator bahwa air sungai telah tercemar. Penelitian yang dilakukan Badiamurti, Garneta R.dan Setiani, Barti M, menunjukan bahwa kondisi badan air Sungai Cikapundung di daerah sampling kelurahan Tamansari menuju hilir ujung Kota Bandung yaitu Kelurahan Cijagra tercemar sedang. Status Mutu Air tersebut dikaitkan dengan insidensi penyakit diare, jumlah bakteri coliform yang terhitung lewat metode Jumlah Perkiraan Terdekat (JPT), khususnya nilai fekal coli berbanding lurus dengan nilai insidensi penyakit diare (Badiamurti, Garneta R.dan Setiani, Barti M., 2011).

Pembangunan perkotaan tidak akan terlepas dari pengelolaan sampah yang ditimbulkan dari aktivitas perkotaan. Timbulan sampah kota menunjukan tren yang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan penduduk, meningkatnya kegiatan pembangunan, dan perubahan pola kosumsi masyarakat. Hingga saat ini penanganan sampah masih terfokus pada penanganan timbulan sampah. Upaya untuk mengurangi kuantitas sampah... >> Artikel selengkapnya

Menerapkan STBM di kawasan Kumuh Perkotaan di Kelurahan Pekojan, Tambora, DKI Jakarta

Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan, tentu saja Kami harus siap dengan segala konsekwensi dalam memberdayakan masyarakat agar mandiri dan sehat. Tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi. Keanekaragaman suku dengan berbagai adat budayanya di Kelurahan Pekojan, juga sifat terbuka dan seringkali keras dari kader–kader PKK, ditambah dengan begitu kumuh dan buruknya sanitasi di wilayah Pekojan Kecamatan Tambora Jakarta Barat cukup menciutkan hati.

Saat mendampingi kerjabakti yang dilaksanakan setiap hari minggu, seringkali Kami menemui tumpukan sampah bahkan gelondongan kotoran manusia di sepanjang selokan kecil yang ada di beberapa wilayah. Wilayah Pekojan sebelumnya pernah diintervensi STBM oleh MERCY Corp. Sayangnya begitu selesai pendampingan, program yang diperkenalkan tidak dijalankan sehingga warga kembali ke perilaku semula dan tidak mengindahkan sanitasi yang layak.

Kami melakukan rangkaian kegiatan pemicuan, namun karena keterbatasan waktu dan tenaga (karena masih tugas rangkap di luar wilayah), pendampingan STBM tidak dapat dilakukan secara lengkap. Untuk itu, Kami memberikan kesadaran pada kader PKK selaku ujung tombak pembangunan di kelurahan akan pentingnya air dan sanitasi, bahwa hal kecil yang dilakukan melalui STBM sangat berdampak besar terhadap meningkatnya angka harapan hidup sebagai indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bidang kesehatan. Sosialisasi, kampanye STBM, dan pelatihan singkat dilakukan dalam setiap kesempatan baik saat pertemuan rutin PKK tingkat kelurahan Pekojan setiap Jumat pertama setiap bulan, atau saat pengajian rutin di jumat minggu ketiga setiap bulannya, atau saat moment – moment penting antara lain Hari Sampah sedunia, hari CTPS, dll. Saat kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Jumat pagi secara keliling di 12 RW... >> Artikel selengkapnya

Artikel Terkait Lainnya :

1. Bukan sekedar mimpi...
2. Geliat STBM di Sumedang: Gaungkan Minimarket "Grandung Sanitas"
3. Apakah rumah tangga di Indonesia tertarik untuk memperbaiki sistem pengelolaan air limbah domestik setempat?...