e-Newsletter Dwi bulanan
Logo
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Editorial
Edisi Februari 2012
Peresmian Rakornas

Pelaksanaan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) mulai memasuki masa akselerasi, untuk mengejar pencapaian target bebas dari buang air besar sembarangan di tahun 2014 seperti yang telah dicanagkan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Rapat Koordinasi STBM Nasional yang pertama pada tahun 2011 lalu menjadi sebuah langkah besar yang menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Dalam pertemuan STBM tersebut diluncurkan pedoman pelaksanaan STBM serta logo STBM yang sekarang ini tersedia. Upaya Akselerasi STBM pun dilanjutkan dengan berbagai kegiatan, baik di tingkat pusat maupun daerah, mulai dari beragam lokakarya konsolidasi, desa-desa yang telah mendeklarasikan diri sebagai desa STBM, maupun kegiatan lainnya yang didukung oleh mitra STBM.

"Pembelajaran dari Rakornas STBM dan Perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia yang dilaksanakan Oktober 2011 lalu adalah bahwa sinergi untuk pelaksanaan STBM skala besar bisa dilakukan." ujar Zainal Nampira dalam Pertemuan Konsolidasi STBM di Bali 24-28 Oktober 2011 lalu. Untuk itu, Kementerian Kesehatan bersama mitra mendorong revitalisasi sekretariat STBM yang diharapkan dapat berperan sebagai wadah koordinasi untuk pelaksanaan STBM yang lebih terarah. Melalui sekretariat ini, komunikasi antar pelaku juga diharapkan dapat terjalin dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyediakan sarana penyebaran informasi seperti website STBM dan newsletter.

Newsletter elektronik edisi Februari ini mengulas mengenai pencapaian STBM hingga tahun 2012 dan persiapan peningkatan program STBM ke depan. Beragam inisiatif dan pengalaman baik yang dilakukan di tingkat pusat maupun daerah, oleh Pemerintah maupun mitra, kami coba rangkum dalam segmen-segmen yang tersedia dalam newsletter ini.

Akhir kata, semoga informasi yang diberikan dapat berguna bagi seluruh
penggiat STBM dan program STBM dapat berjala lebih baik lagi dan
secara efektif mencapai target yang dituju.

Artikel Utama
>> Artikel lainnya

Rekomendasi Pustaka
>> Pustaka lainnya 

Agenda Kegiatan
  • 20 - 26 Feb 2012, ToT Fasilitasi STBM Cikarang - Kementerian Kesehatan
  • 21 Feb 2012, Workshop Peran ORMAS dalam membantu percepatan STBM - Promkes Pusat
  • 13 - 17 Maret 2012, Pelatihan Fasilitasi STBM di Kab. TTS & Kab. TTU - Plan Indonesia
  • 20 - 21 Maret 2012, Pelatihan Gender dan Inklusi dalam CLTS di Kab. Grobogan - Plan
  • Maret 2012, Workshop Implementasi STBM Perkotaan di Medan dan Surabaya - High Five
  • Maret 2012, Kick off Program High Five di Medan - High Five
  • Maret 2012, Pertemuan APPSANI Pengesahan Rencana Kerja 2012
>> Agenda selengkapnya

Kontak Kami
Sekretariat STBM Nasional
Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal PP dan PL
Gedung D Lantai 1 –
Jl. Percetakan Negara No. 29, Jakarta Pusat 10560 - PO BOX 223
Telp. (021) 4247608 Ext: 182, (021) 42886822, Fax: (021) 42886822
email: sekretariat@stbm-indonesia.org
website: www.stbm-indonesia.org
   
Artikel Utama

Jawa Timur menyumbangkan 12,3% dari total 20.000 desa STBM
Cita-cita besar yang disampaikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2008 untuk mencapai 20.000 desa STBM dijawab oleh salah satunya Provinsi Jawa Timur. Sejak pendekatan Community-Led Total Sanitation diimplementasikan di salah satu kabupaten di Jawa Timur pada tahun 2005, hingga tahun 2011 telah diperoleh capaian sebesar 2.473 desa STBM di Jawa Timur. Sementara pada tingkat nasional, pada tahun 2011 ditargetkan 5.500 desa menjadi desa STBM.

InvestasiUpaya Jawa Timur untuk melaksanakan STBM ini bisa dibilang sangat serius, terbukti dari alokasi anggaran bagi STBM yang selalu tersedia dalam jumlah besar sejak tahun 2008 hingga tahun 2011. Alokasi anggaran selama 4 tahun belakangan ini berhasil meningkatkan akses ke jamban sehat bagi sekitar 1,4 juta penduduk di Jawa Timur. Bahkan, dari alokasi sebesar total 17,3 miliar rupian yang telah diinvestasikan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten tersebut, dapat digerakkan dana sebesar 107,7 miliar rupiah dana swadaya masyarakat untuk membangun jamban dengan harga rata-rata sebesar Rp 300 ribu. Terlebih lagi, pada tahun 2012 Jawa Timur semakin gencar melaksanakan STBM dengan terbentuknya asosiasi pengusaha sanitasi serta penguatan pemantauan dan evaluasi perkembangan STBM.
Kontak: sap_tera@yahoo.com

Asosiasi Pengusaha Sanitasi di Indonesia telah terbentuk
Sejumlah pengusaha sanitasi di Jawa Timur menginisiasi pembentukan Asosisasi Pengusaha dan Pengelola Sanitasi Indonesia (APPSANI) dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan pada bulan Januari 2012 lalu. Para pengusaha sanitasi dari Lumajang, Nganjuk, Blitar, Kediri, jombang, Ngawi dan Sidoarjo saling berbagi pengalaman dalam menjalankan usaha sanitasi yang telah dimulai sejak tahun 2008. Usaha sanitasi memegang peranan penting dalam menjaga kesinambungan kondisi stop buang air besar sembarangan. Ketika masyarakat sudah berubah perilakunya, maka perlu didorong penyediaan sarana sanitasi yang terjangkau.

Usaha sanitasi yang sudah dilakukan ini selama tahun 2011 telah berhasil menjual sarana jamban senilai 12 miliar rupiah, yang merupakan dana murni masyarakat. Namun dengan prestasi tersebut, tidak berarti usaha sanitasi selalu berjalan mulus. Beberapa isu yang muncul pada pertemuan itu adalah adanya intervensi jamban bersubsidi, peningkatan permintaan jamban yang semakin besar sementara ada keterbatasan suplai, kebutuhan untuk mencari alternatif material yang lebih murah untuk pengadaan jamban dan lain sebagainya. Para pengusaha sanitasi berpendapat bahwa diperlukan sebuah wadah yang dapat mempersatukan mereka untuk menghadapi tantangan yang timbul, sekaligus untuk berkembang lebih baik dan lebih besar. Terlebih lagi, asosiasi ini nantinya akan memiliki legalitas.

Diharapkan munculnya asosiasi ini akan dapat menginspirasi munculnya para pengusaha sanitasi yang baru, bahkan mendorong kaum perempuan untuk bisa berkecimpung dalam usaha sanitasi. Saat ini, jabatan ketua APPSANI dipegang oleh Bapak Koen Irianto. Dalam waktu dekat, APPSANI akan mengurus legalitas organisasi dan berkumpul untuk membahas program kerja yang solid.
Kontak: bdarmawan@worldbank.org

Renaissance STBM di tengah Pulau Dewata
Renaissance
Sejak pencanangan STBM di tahun 2008, hingga kini semakin besar jumlah penggiat STBM yang tersebar di berbagai daerah. Namun, tidak demikian di Provinsi Bali. Wida Indrayanti, koordinator provinsi untuk proyek TSSM di Bali menyatakan bahwa di Bali, pendekatan CLTS dan STBM benar-benar merupakan "barang baru" bagi sanitarian dan Dinas Kesehatan. Beberapa orang sanitarian memang pernah memperoleh informasi mengenai pendekatan CLTS pada tahun 2006. Sayangnya, selanjutnya informasi tersebut menempati layer paling bawah dalam ingatan mereka. Hal ini disebabkan tidak adanya payung hukum yang sifatnya mengikat dan tidak ada tindak lanjut pasca sosialisasi CLTS di tahun 2006.

Tahun 2011 menandai kelahiran kembali STBM di Bali. Serangkaian kegiatan terkait STBM mulai dilaksanakan sejak Oktober 2011 lalu. Diawali dengan sosialisasi STBM di Bulan Oktober, kemudian dilanjutkan dengan 3 tahap kegiatan pelatihan fasilitator dan ToT di tingkat provinsi. Hasilnya, saat ini fasilitator STBM telah tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali.

Dinas Kesehatan di Provinsi Bali mempunyai misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memicu pada 115 petugas Puskesmas se-provinsi Bali. Untuk itu, pelatihan fasilitator akan dilaksanakan pada tahun 2012 dengan target pemicuan di 80 desa. Peningkatan kapasitas dan kualitas pemicuan pun terus dilakukan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan penyegaran bagi fasilitator. Hingga saat ini, pemicuan sudah dilakukan di 8 komunitas dan 6 sekolah dasar.

Beragam potensi untuk pelaksanaan STBM pun mulai teridentifikasi. Bali yang terkenal dengan budayanya serta ikatan antar masyarakat yang kuat diharapkan dapat mendukung pelaksanaan STBM. Ditambah lagi dengan komitmen tinggi dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten untuk pencapaian target MDGs. Dengan ini, Bali pun siap mengejar ketertinggalannya dalam STBM.
Kontak: widaindrayanti@yahoo.co.id

Workshop Strategi Komunikasi untuk Perubahan Perilaku di Jakarta
Sejumlah peserta dari penggiat STBM di pusat dan perwakilan dari Kota Surabaya, Medan dan Makassar menghadiri workshop strategi komunikasi dalam rangka perubahan perilaku yang diselenggarakan oleh High Five. Perubahan perilaku yang dimaksud adalah peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat yang mengacu ada kelima pilar STBM.

"Workshop ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi intervensi komunikasi paling tepat dalam mendukung program High Five di tiga kota tersebut," ungkap Ika Franciska, Team Leader proyek High Five.

Dalam acara ini, dipaparkan hasil formative research High Five di Kota Surabaya, Medan dan Makassar, yang ditujukan untuk mengenali karakteristik, faktor pendukung, kendala, pembelajaran serta stakeholder berpotensi di ketiga kota tersebut. Peserta juga diajak para fasilitator dari Johns Hopkins University melakukan net-mapping untuk memetakan target khalayak serta pihak yang berpengaruh di kota masing-masing. Yang menarik dari workshop ini, para peserta dari Kementerian dan lembaga di tingkat pusat juga diajak untuk merancang strategi advokasi untuk meningkatkan komitmen yang lebih luas dalam implementasi STBM secara nasional.

High Five sendiri merupakan bagian dari program USAID yang berusaha untuk menurunkan angka kesakitan diare, khususnya terhadap anak balita di Medan, Surabaya dan Makassar. Di Surabaya, program ini akan dilaksanakan di Kelurahan Wonorejo Kecamatan Tegalsari dan Kelurahan Petemon Kecamatan Sawahan. Sementara di Makassar akan menyasar Kelurahan lembo dan Tallo. Untuk Medan, di Kelurahan Tirta Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai, dan Kelurahan Kota Bangun Kecamatan Medan Deli. Harapannya, setelah dilakukan di dua kelurahan di masing-masing kota tersebut, pemerintah kota mampu mereplikasikannya ke 10 kelurahan yang lain.

>> Artikel selengkapnya

20 Desa di Kabupaten Timor Tengah Utara Deklarasi STBM
Pelaksanaan STBM di daerah semakin pesat perkembangannya. Salah satu daerah yang menunjukkan semangat tinggi untuk pelaksanaan STBM adalah Kabupaten Timor Tengah Utara, yang didukung oleh Plan Indonesia. Pada tanggal 7 Februari 2012 lalu, 20 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Bikomi Utara, Kecamatan Musi dan Kecamatan Biboki Utara mendeklarasikan diri sebagai desa STBM. Dengan pendeklarasian 20 desa ini, makaa jumlah desa STBM di Kabupaten Timor Tengah Utara menjadi 24 desa STBM, setelah 4 desa lainnya mengawali deklarasi desa STBM tahun 2011 lalu.

STBM sendiri tersusun dari lima pilar perilaku hidup bersih dan sehat. Lima pilar yang dimaksud adalah Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air dan Makanan yang aman di Rumah Tangga (PAMM RT), pengelolaan sampah dengan benar dan pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman. Dikatakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa Sainoni, Aloysius Korbavo, kehadiran program STBM yang difasilitasi Plan Indonesia Kefamenanu menambah perilaku masyarakat untuk mencintai pola hidup yang lebih dari kebiasaan lama yang sering mengabaikan pola hidup sehat.

Direktur Program Plan Indonesia, Nono Sumarsono, menyatakan bahwa bertambahnya desa STBM di Kabupaten Timor Tengah Utara akan sangat berkontribusi untuk mewujudkan target MDGs, terutama target 6 dan 7, yaitu peningkatan kesehatan lingkungan melalui penyediaan air minum dan sanitasi dasar serta peningkatan perilaku higienis, serta pengendalian penyakit malaria, diare, cacingan ISPA dan penyakit lainnya. Sementara itu, manager Program Air, Sanitasi dan Hygiene Plan Indonesia, Eka Setiawan, menjelaskan bahwa sebagai desa STBM, berarti setiap rumah tangga di desa tersebut sudah terverifikasi melaksanakan lima pilar STBM secara baik.

>> Artikel selengkapnya
 
Rekomendasi Pustaka

Islam itu Bersih, Islam itu Sehat
Islam Itu bersih
Buku ini disusun sebagai tindak lanjut dari pertemuan yang membahas peran dakwah dalam bidang hygiene dan sanitasi pada bulan Juni 2009 di Surabaya. Hasil pertemuan tersebut dirangkum dalam buku ini sebagai mater dakwah sanitasi dan memudahkan pengguna dalam memilih pesan-pesan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Buku ini dapat dijadikan pegangan/panduan bagi syi'ar/dakwah kepada masyarakat agar mengubah perilaku dan kebiasaan buruk dalam sanitasi. Dalam buku ini, dapat ditemukan berbagai ayat Al Quran maupun hadits Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan aturan dan anjuran untuk hidup bersih dan sehat.

>> Selengkapnya


Verifikasi ODF Komunitas
Verifikasi ODF
Verifikasi status bebas dari buang air besar sembarangan (Open Defecation Free/ODF) penting untuk dilakukan dalam memastikan perubahan perilaku di masyarakat benar-benar terjadi dan berkelanjutan. Tidak hanya pada saat deklarasi ODF saja, namun perubahan perilaku harus terjadi secara permanen.

Proses verifikasi yang disampaikan dalam buku ini adalah proses memastikan status ODF suatu komunitas masyarakat yang menyatakan bahwa secara kolektif mereka telah terbebas dari perilaku buang air besar sembarangan.

>> Selengkapnya