* Workshop Evaluasi Penerapan Komunikasi Perubahan Perilaku Sanitasi dan Hygiene, 18 - 19 November 2014, Provinsi Nusa Tenggara Barat ........ Kabupaten Pacitan, Magetan, Ngawi, dan Kota Madiun deklarasikan daerah mereka Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (SBS), saat Hari Kesehatan Nasional 2014 ........ Pertemuan Sosialisasi Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (PAM-STBM) - Hotel Garden Palace Surabaya, 16 - 19 September 2014

Menuju Desa Sehat dengan Kredit Jamban

Pemalang 1Desa sehat  adalah kondisi desa  yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk.  Salah satu indikator desa sehat adalah tidak adanya lagi kotoran manusia yang dibuang ke lingkungan. Untuk mencapai kondisi desa sehat ini bukan merupakan hal yang mudah. Masyarakat harus mau mengubah kebiasaannya buang air besar sembarangan di sungai atau di kebun. Berbagai upaya untuk merubah kebiasaan masyarakat yang tidak sehat tersebut telah dilakukan, diantaranya dengan memicu masyarakat yang biasa buang air besar sembarangan dengan rasa takut, berdosa, malu, jijik, dan aman. Pemicuan dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di masyarakat yang sudah berjalan, seperti majlis taklim, pertemuan PKK, selapanan desa, dsb.  Dari kegiatan tersebut masyarakat yang  terpicu untuk berubah membubuhkan  tanda tangan di atas selembar kertas lebar.

Untuk membuktikan komitmen mereka maka petugas sanitasi bersama bidan dan kader kesehatan melakukan  kunjungan rumah. Petugas dan kader kesehatan harus bersabar ketika komitmen mereka untuk membangun jamban belum terwujud. Berbagai alasan muncul dari mereka, seperti: belum punya uang, menunggu anak pulang dari Jakarta, tanah sempit, mahal, belum ada tukang, jauh untuk membeli buis beton, dsb. Alasan-alasan tersebut masih enak di telinga, daripada ketika mereka berkata: “Kalau ada bantuan, ya kami siap buat jamban!”

Pemalang 2Pernyataan-pernyataan yang sama selalu muncul dari setiap desa yang dilakukan pemicuan. Namun, pernyataan-pernyataan ini pada dasarnya merupakan kebingungan bagaimana cara mereka dapat memenuhi kebutuhan akan sarana sanitasi. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Pada pertengahan tahun 2012, Kemenkes memberikan bantuan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang berupa alat cetak buis beton. Puskesmas Kebandaran pun ikut meminjam alat tersebut dan segera dibawa ke desa Gunungbatu untuk pelatihan PHBS program PAMSIMAS. Petugas sanitasi optimis bahwa meskipun Desa Gunungbatu merupakan desa pegunungan, yang kondisi transportasinya sulit dan jauh dari toko material, tetapi mempunyai potensi alam berupa pasir pasang, akan dapat dijadikan awal percontohan pembuatan jamban sehat dan murah.

Praktek Pembuatan Jamban sehat Percontohan

Praktek pembuatan jamban sehat dan murah pertama kali di buat di rumah seorang perangkat desa. Tukang yang dilatih pada praktek pembuatan jamban ada 2 orang yaitu Taryono dan Hasan Hariri. Berbeda  dengan pembuatan jamban pada umumnya,  pada pembuatan jamban sehat percontohan ini,  buis beton langsung dicetak di dalam lobang tanah sehingga tangki septik lebih kuat dan kedap air.  Melalui tukang, perangkat desa dan kader kesehatan maka informasi pembuatan jamban sehat dan  murah mulai tersebar. Secara perlahan alat cetak buis beton dan tukang tersebut berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

Pemalang 5

Inisiasi Wirausaha Sanitasi

Pada akhir September 2012 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Wirausaha Sanitasi pagi petugas Sanitasi se-Jawa Tengah.  Tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk memberi bekal bagi sanitarian untuk menjadi wirausaha sanitasi. Kami pun ikut seleksi dan lolos menjadi peserta pelatihan yang diselenggarakan di Pemalang.  Berdasarkan motivasi dari tim Water Sanitation Program (WSP) inilah muncul semangat bahwa kebiasaan masyarakat buang air besar sembarangan sebenarnya bukan masalah tetapi sebuah peluang usaha yang perlu dikemas dengan pemasaran sanitasi.

Isu yang muncul pada masa inisiasi wirausaha sanitasi adalah bahwa Petugas sanitasi mempunyai keterbatasan waktu dan keterbatasan jangkauan wilayah. Terlebih lagi, Puskesmas Kebandaran terdiri dari 19 desa dan 7 desa diantaranya daerah pegunungan. Di samping itu perlu alih teknologi sanitasi dari petugas kepada masyarakat.

Dengan mempertimbangkan isu-isu tersebut, maka di tiap desa secara bertahap perlu dibentuk kelompok wira usaha sanitasi sebagai perpanjangan tangan petugas sanitasi, di samping untuk keberlanjutan program.

Kelompok Wirausaha Sanitasi Desa Gunungbatu adalah pionir yang terbentuk di wilayah Puskesmas Kebandaran yang kepengurusannya diputuskan melalui musyawarah  pemerintah desa dan  tokoh masyarakat.

Dukungan dan pengakuan dari tokoh masyarakat, lembaga desa dan pemerintah desa sangat diperlukan untuk keberlangsungan kelompok ini.  Susunan pengurus kelompok wira usaha sanitasi desa Gunungbatu sbb:

Slide1

Pemasaran Produk  Jamban Sehat

Pemalang 6Pemasaran jamban sehat dilakukan dengan menggunakan brosur yang berisi beberapa tipe jamban sehat dari harga Rp.700.000 sampai Rp.1.150.000. Harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti harga material. Dengan bekal brosur inilah para kader kesehatan ketika melakukan kunjungan rumah, akan berkata, kami datang tidak membawa stimulan, kami datang menjual jamban sehat.

Produk jamban sehat dari kelompok wira usaha sanitasi harus memenuhi   kriteria jamban sehat menurut Kemenkes, yaitu: (1) Tidak mencemari air dan tanah permukaan, (2) Bebas dari serangga, (3) Tidak menimbulkan bau, (4) Tidak menimbulkan gangguan pada pemakainya, (5)  Aman dan nyaman digunakan, (6) Mudah dibersihkan, (7) Tidak menimbulkan pandangan yang tidak sopan.

Jamban sehat yang dibangun kelompok ini memang baru sekitar 40 unit dengan harga rata-rata per unit 700 ribu rupiah.  Masih ada peluang usaha jamban sehat di desa Gunungbatu sebanyak 223 rumah, karena dari 348 rumah yang ada baru  125 rumah yang memiliki jamban.

Bagi Kelompok Wira Usaha Sanitasi, tinja manusia bukan lagi menjadi hal menjijikan, bukan lagi menjadi masalah, tapi menjadi peluang usaha. Pantaslah mereka berkata, tinjamu bukanlah musibahku, tinjamu adalah rupiahku.

Di desa Gunungbatu, masyarakat kurang mampu dapat membeli jamban secara kredit. Kelompok Wira Usaha Sanitasi Desa Gunungbatu mempunyai mitra usaha dengan Kelompok Simpan Pinjam Gemah Ripah Gunungbatu yang dapat memberikan kredit jamban. Kendala yang dihadapi koperasi ini adalah keterbatasan modal sehingga masyarakat harus menunggu lama untuk mendapatkan kredit jamban.

Pembinaan

Hingga tahun 2012, di wilayah Puskesmas Kebandaran telah terbentuk 4 kelompok Wirausaha Sanitasi, yaitu Desa Gunungbatu, Jatingarang, Longkeyang dan Pendowo. Perlu perhatian  dari pihak pemerintah terhadap Kelompok Wirausaha ini berupa pembinaan dan bantuan alat cetak buis beton.

ASSAMI (Asosiasi Wirausaha Sanitasi Mandiri Ikhlas) Kabupaten Pemalang yang baru terbentuk pada bulan April 2013, diharapkan ikut turun tangan memberikan bimbingan dan pelatihan kewirausahaan. Sudah saatnya pihak bank pun bisa menjadi mitra kelompok wirausaha sanitasi dengan mengucurkan kredit lunak untuk permodalan.

Ingin Ploong? Ya… Pluung di Jamban sehat!  Lingkungan menjadi bersih , nyaman, aman dan sehat.

Ditulis oleh: Misyuko, SKM (Sanitarian Madya Puskesmas Kebandaran Kec. Bodeh, Kab.  Pemalang; Ketua Asosiasi Wira Usaha Sanitasi Mandiri Ikhlas (ASSAMI) Pemalang; Tim Pakem Pamsimas Kab Pemalang)
Kontak: misyukoskm@ymail.com
 


Komentar Anda :
Sekretariat STBM Nasional : Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal PP dan PL
Gedung D Lantai 1 - Jl. Percetakan Negara No. 29, Jakarta Pusat 10560 - PO BOX 223
Telp. (021) 4247608 ext. 182, (021) 42886822, Fax: (021) 42886822, email: sekretariat@stbm-indonesia.org