Apakah rumah tangga di Indonesia tertarik untuk memperbaiki sistem pengelolaan air limbah domestik setempat? Ya, dan mereka pun menginginkan lingkungan yang bersih

01-02-2017

Kebanyakan warga yang tinggal di kota besar dan kota kecil di negara berkembang tidak memiliki akses ke sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat (SPAL-DT atau sewerage system) untuk mengolah buangan dari toilet di masing-masing rumah. Sebagai gantinya, warga mengandalkan sistem pengelolaan air limbah domestik setempat (SPAL-DS atau onsite sanitation system), yang berarti buangan tinja  ditampung di cubluk atau tangki. Namun demikian, tingginya akses masyarakat pada sistem sanitasi setempat masih memiliki risiko pencemaran terhadap lingkungan sekitar atau badan air terdekat bila kualitas SPAL-DS tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan. Untuk itu, Bank Dunia melakukan studi di 6 kota besar di Indonesia pada tahun 2015 untuk melihat kondisi SPAL-DS di rumah tangga serta menilai keinginan masyarakat untuk memperbaiki kondisi SPAL-DS mereka.

Studi tersebut melibatkan wawancara dan kunjungan pada 2600 rumah tangga serta diskusi terfokus pada para pemangku kepentingan lain di 6 kota besar di Indonesia. Hasil studi tersebut mengkonfirmasikan  bahwa sebagian besar masyarakat perkotaan  di daerah yang di survey (85-90%) menggunakan SPAL-DS, sedangkan sisanya memiliki akses atau berkeinginan untuk menyambung ke SPAL-DT. Studi ini juga menemukan bahwa 66% responden mengaku belum pernah dikosongkan/dilakukan penyedotan terhadap tangki. 17% responden mengakui bahwa tangkinya pernah meluap atau kebanjiran. Dan, 88% responden mengakui bahwa jarak tangki di rumahnya ke sumur terdekat masih kurang dari 10 meter. Untuk diingat, luapan dari tangki bersifat patogenik atau dengan kata lain banyak mengandung kuman dan mikro organisme penyebab penyakit. Maka badan air yang terpapar luapan tangki tentu rentan tercemar oleh kuman dan mikroorganisme tersebut. Hal menarik lainnya adalah warga yang telah menggunakan SPAL-DS  berkeinginan untuk tetap melanjutkan penggunaannya di masa yang akan datang. Dari berbagai temuan tersebut, kemudian timbul pertanyaan, “Apakah responden rumah tangga mengetahui kualitas SPAL-DS yang mereka miliki?” Lebih spesifik lagi, “Apakah mereka berkeinginan untuk memperbaikinya?”

Berbeda dengan pandangan yang umumnya diketahui, studi ini menyebutkan bahwa 60% hingga 70% responden menyatakan ketertarikannya untuk memperbaiki SPAL-DS masing-masing, sebab kelompok responden dimaksud memercayai bahwa hasilnya tentu akan lebih bersih dan sehat. Kelompok ini mewakili warga yang menginginkan lingkungan yang bersih dan sehat, dan percaya bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk mewujudkannya. Dengan demikian, dapat digarisbawahi bahwa pengaruh sebuah rumah tangga terhadap rumah tangga lain merupakan faktor penggerak yang signifikan dan konsisten, sebab motivasi untuk melakukan investasi diciptakan dan semakin menguat ketika setiap orang di dalam komunitas memegang komitmennya perbaikan SPAL-DS. Kesediaan rumah tangga untuk membayar biaya perbaikan cukup tinggi, walaupun belum dapat menutupi seluruh biaya yang timbul dari upaya perbaikan SPAL-DS. Selain itu, lahan yang sempit di perkotaan menjadi hambatan lain dalam perbaikan SPAL-DS sehingga sulit untuk menerapkan standard tangki septik yang telah ditetapkan.

artikel lainnya 2Saat ini walaupun standar nasional untuk tangki septik telah tersedia, penerapan standard tersebut secara konsisten masih terkendala oleh kurangnya tingkat pemahaman masyarakat. Selain itu, opsi sistem sejenis (SPAL-DS) yang dapat diterapkan di kondisi spesifik, misalkan pada daerah dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, daerah pasang surut, daerah dengan muka air tanah tinggi dan sebagainya, masih belum tersedia. Hal lain yang menjadi kendala terhadap penerapan standard tangki septik adalah terkait dengan lemahnya pengawasan atas pembangunan tangki septik. Masih jarang perangkat daerah bahkan  rumah tangga yang memahami standard tangki septik dan bagaimana menerapkannya dilapangan. Kebanyakan konstruksi tangki septik diserahkan kepada tukang atau pekerja bangunan setempat yang dianggap lebih tahu, dengan pengawasan atau peninjauan kesesuaiannya terhadap izin pendirian bangunan yang sangat terbatas.

Memahami dampak dari kondisi tersebut, saat ini Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan telah melakukan upaya peningkatan kualitas SPAL-DS melalui Program Hibah Pengelolaan Air Limbah Setempat. Program ini pun diharapkan mampu meningkatkan dampak perbaikan lingkungan yang dilakukan melalui peningkatan pengelolaan lumpur tinja yang saat ini telah dimulai di berbagai kota di Indonesia.

Oleh: Maraita Listyasari, Iman Utomo


Komentar Anda